Geliat SMP NEGERI 17 Kota Padang sebagai Sekolah Model Rintisan SPMP

Sekolah model yang saat ini tengah dikembangkan oleh kemendikbud adalah sekolah yang memperoleh kesempatan difasilitasi melalui layanan pendampingan oleh LPMP ( Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan ) yang terdapat di setiap propinsi di seluruh Indonesia. LPMP adalah unit pelaksana teknis (UPT) dari kemendikbud yang berada di propinsi.

Berbeda dengan istilah sekolah model yang selama  ini dikenal secara luas yaitu sekolah yang kondisinya mendekati tingkat sempurna dalam segala bidang dan aktivitas, sehingga di jadikan contoh atau rujukan  oleh sekolah sekolah lainnya. Sedangkan sekolah model rintisan SPMP ( Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan ) adalah sekolah biasa bahkan kriteria sekolah yang ditunjuk adalah sekolah yang nilai akreditasinya kurang dari A namun telah menerapkan Kurikulum 2013.

Pada tanggal 7 Nopember penulis mendapatkan kesempatan berkunjung ke salah satu sekolah model rintisan SPMP di kota Padang Sumatera Barat, yaitu SMP Negeri 17 Padang. Sekolah ini berada di bawah pendampingan LPMP Sumatera Barat.

SMP Negeri 17 Padang berada di wilayah Lubuk Bagalung kota Padang, memiliki areal 3900 meter persegi, jumlah peserta didiknya 700 siswa yang terbagi  ke dalam 24 rombongan belajar, yang dibina oleh 50 orang guru dan didukung oleh 13 orang tenaga administrasi ( Tata usaha).

Tantangan yang dihadapi SMP Negeri 17 Padang antara lain : lokasinya berada di wilayah yang disinyalir  sangat rawan dengan peredaran Narkoba, lokasi sekolah juga tidak jauh dari pabrik pengolahan karet yang tiap harinya membuat suasana sekolah agak terganggu oleh aroma bau yang tidak sedap dari bahan olahan karet, selain itu latar belakang keluarga peserta didik pada umumnya memprihatinkan banyak diantaranya yang yatim, piatu, bahkan yatim piatu, serta siswa yang broken home dan banyak yang bertempat tinggal bukan di keluarga intinya tapi menumpang di keluarga keluarga saudara ibunya atau saudara ayahnya.. Di samping itu intake ( masukan ) siswa yang mendaftar di SMP Negeri 7 Padang adalah siswa siswa yang tidak diterima di sekolah sekolah favorit, sehingga kemampuan dasar di bidang akademik umumnya rendah.

Dalam proses pengimbasan kiat kiat sekolah model kepada sekolah imbas, kepala sekolah sangat proaktif dengan menjalin komunikasi dan berkumpul secara periodik dengan kepala kepala sekolah imbas juga guru gurunya. Ibu Elis cukup piawai dalam hal ini, bisa dimengerti karena beliau ternyata mantan instruktur dalam program Leson study di masa lalu yang telah terbiasa berkomunikasi  dengan sesama guru maupun sesama kepala sekolah. Hal ini membuat tugas pengawas sekolah menjadi lebih terbantu.

Kita berharap sekolah-sekolah lainpun tidak menyerah dengan kondisi sekolah seburuk apapun, namun itu semua membutuhkan kreativitas, kerja cerdas dan kerja keras dari kepala sekolah selaku menejer dan pemimpin sekolah.

 

    LPMP DKI Jakarta bekerjasama dengan Yayasan Batutis Al-Ilmi Bekasi menyelenggarakan Pelatihan Jurnalistik bagi Tim Publikasi LPMP DKI Jakarta di Pusdiklat Pegawai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Depok, Jawa Barat. Pelatihan berlangsung selama 3 (tiga) hari mulai tanggal 14 sampai dengan 16 Juni 2017. Pada acara pembukaan Kepala LPMP DKI Jakarta, Bapak Surya Fitri Nurulhuda, SE, M.Si mengamanatkan pada para peserta pelatihan agar dapat memanfaatkan waktu dan materi yang disampaikan narasumber untuk meningkatkan pengetahuan tentang jurnalistik khususnya bagaimana cara menulis berita agar setelah kegiatan ini berakhir para peserta dapat menyumbangkan tulisan-tulisan yang dapat menjadikan publikasi LPMP seperti laman website, sosial media maupun media publikasi lainnya dapat hidup dan bangkit kembali. Pada saat penyampaian materi, Yudhistira ANM Massardi & Tim selaku narasumber dari Yayasan Batutis Al-Ilmi menekankan perlunya unsur 5W 1H + FAKTA dalam sebuah penulisan berita. 5W yang dimaksud adalah What (apa), Who (siapa), When (kapan), Where (dimana) dan Why (kenapa) serta 1 H yaitu How (bagaimana), sedangkan dalam mendeskripsikan lebih lanjut atau penulisan investigasi yang dikembangkan adalah unsur Why dan How. Selanjutnya bagaimana susunan redaksi dalam struktur penerbitan juga merupakan hal yang tak kalah penting, karena di sanalah dapur dalam penerbitan berita. Selain materi di atas pada pelatihan ini juga diulas mengenai bagaimana menulis kreatif, Dasar-dasar fotografi, dan publikasi web.  Materi pelatihan disampaikan dengan cara yang cukup menarik perhatian peserta disertai praktek agar peserta dapat secara langsung memahami materi yang disampaikan narasumber. Pelatihan ini dianggap perlu dilaksanakan mengingat beberapa tahun terakhir publikasi di LPMP DKI Jakarta bagaikan matisuri, Bulletin KIAS pernah terbit beberapa tahun yang lalu, tahun ini sedang direncanakan untuk diterbitkan lagi. Untuk media website LPMP sendiri sempat vakum beberapa tahun sampai akhirnya membuat Kepala LPMP tergelitik untuk menghidupkan kembali laman website yang menurutnya merupakan salah satu media yang cukup penting dan inovatif dalam menyampaikan berita atau peristiwa yang saat ini terjadi di dunia pendidikan khususnya di lingkungan LPMP DKI. Membangkitkan semangat menulis pegawai yang memiliki tugas dan kegiatan masing-masing bukan merupakan hal yang mudah. Kegiatan yang beruntun diantara waktu yang terus berjalan ditambah kemampuan menulis yang terbatas membuat publikasi LPMP sulit berkembang.  Susunan Dewan Redaksi saat ini pun belum mampu bekerja secara optimal. Beruntung Pimpinan saat ini memiliki perhatian yang khusus akan pentingnya publikasi sehingga kegiatan pelatihan jurnalistik bagi tim publikasi didukung secara penuh, tinggal bagaimana para peserta memanfaatkan kesempatan yang ada untuk meningkatkan kemampuan menulis dan kemampuan pendukung jurnalistik lainnya agar dapat memberikan sumbangsih yang optimal pada kemajuan publikasi LPMP khususnya dan kemajuan pendidikan Indonesia pada umumnya.(okt)